SYARATSYARAT KALIMAT لا إله إلا الله. Kalimat la ilaha illallah memiliki tujuh syarat yang ucapan kalimat itu tidak sah atau tidak sempurna kecuali syarat-syarat tersebut terpenuhi. Dan seorang hamba harus berpegang teguh kepadanya tanpa menghilangkan salah satu dari tujuh syarat tersebut, yaitu: 1. Al- 'Ilmu (pengetahuan) DjIv. Oleh Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam Pasal 2 Akidah yang Menjadi Ajaran NII, dalam Tinjauan… Berikut ini akan kita ketahui aqidah yang menjadi ajaran NII. Kita mulai dari aqidah yang ditanamkan SM Kartosoewirjo di dalam mengader siswanya di Institut Suffah. Diuraikannya kalimat Laa Ilaha illallah sebagai berikut 1. La maujuda illallah Artinya Tidak ada yang maujud kecuali atas ijin dan takdir Allah. Pengertian singkatnya adalah bahwa setiap kejadian, baik yang disengaja oleh manusia ataupun tidak, baik yang sesuai dengan keinginan manusia ataupun tidak, yang bersifat biasa ataupun luar biasa, yang manis dan yang pahit, yang baik maupun yang buruk, itu semua adalah atas kudrat dan iradat Allah, atas kuasa dan kehendak Allah. Posisi makhluk termasuk manusia, tidak ada peran sama sekali yang berpengaruh di dalan mewujudkan sesuatu, ia hanyalah saluran dan sambungan saja. Daya ikhtiar dan akal manusia, bagaimanapun besarnya tidak akan mampu mewujudkan sesuatu, tanpa izin dan kuasa Allah. Ikhtiar dan akal manusia hanya berfungsi sebagai sarana dan penyambung dari kuasa dan kehendak Allah yang Maha Mutlak. Karena itu, manusia harus menyadari akan kelemahan dan kekerdilannya di hadapan Allah Rabbul Izzati. Segala hidup dan kehidupan, bergantung mutlak kepada kuasa dan kehendak Allah, manusia tidak memiliki daya dan kuasa sedikit pun, kecuali atas kehendak dan kuasa Allah. Inilah yang dikatakan wahdatul maujud. 2. Laa Ma’buuda illallah Artinya Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Setelah meyakini wahdatul maujud, artinya segala sesuatu yang maujud selain Allah, itu semua tergantung kudrat dan iradat Allah, selanjutnya kita harus meyakini bahwa semua yang dijadikan atas takdir Allah itu tidak ada yang sia-sia, tetapi semuanya itu untuk menjadi sarana dan medan pengabdian manusia kepada-Nya jua. Seorang Mukmin harus bertekad bahwa segala takdir yang terjadi pada dirinya, di mana saja, kapan saja dan bagaimanapun keadaannya, hanya akan dijadikan sarana beribadah dan mengabdi kepada Allah saja. Sebab kalau kosong dari nilai ibadah kepada Allah, dia akan terjebak kepada syirik atau maksiat kepada Allah. Hal ini biasa disebut wahdatul ma’bud atau tauhidul ibadah. 3. Laa Mathluba illallah. Artinya Tidak ada yang dicari untuk ditaati dan dicari untuk dihindari, kecuali perintah dan larangan Allah saja. Setelah meyakini bahwa segala takdir yang datang kepada kita adalah untuk sarana ibadah kepada Allah, maka kita harus yakin bahwa segala takdir itu mengandung perintah dan larangan dari Allah yang terperinci. Kita harus berusaha mewarnai kehidupan kita sehari-hari dengan warna Islam saja, jangan sampai sesaat pun diri kita lepas dari nilai Islam, yang telah kita yakini sebagai satu-satunya Dienullah, sistem hidup yang telah digariskan Allah, yang membawa kemaslahatan kehidupan di dunia dan akhirat. Inilah wahdatul mathlub, artinya kebulatan gerak dan langkah sepanjang aturan-aturan Allah saja. 4. Laa maqsuuda illallah. Artinya tidak ada yang dituju dimaksud kecuali keridhaan Allah. Setelah kita berada di jalan Allah, dengan melaksanakan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari, jangan sampai kita menyimpang dari arah dan tujuan hakiki yaitu keridhaan Allah. Jauhkan diri kita dari sifat riya, takabur ambisi dan tujuan-tujuan duniawi lainnya, yang dapat menghapuskan nilai amal kita. Jadi, kita melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, merealisasikan sistem Islam dan menjauhi sistem thaghut, itu tujuannya semata-mata ikhlas mencari keridhaan Allah; bukan yang lainnya. Inilah wahdatul maqshud satu tujuan hanya untuk Al lah.[12] Tafsir Laa ilaha illallah oleh SM Kartosoewirjo yang disadur oleh. A. Firdaus, sebagai generasi kedua NII yang masuk NII dari 1962-1980, disadur lagi oleh majalah An-Naba’ [13] edisi 17/Th. II 1994. Tafsir itu pula yang dijadikan materi pokok tentang tauhidullah aqidah di lingkungan usrah yang telah pula berkembang cukup luas di Indonesia. Tafsir tersebut di atas juga terdapat di dalam tulisan/manuskrip sebagai penjelasan atas komando Imam tanggal 24 April 1962. [14] Manuskrip tersebut ditulis oleh tokoh NII generasi awal Angkatan I/menjadi orang NII antara tahun 1949-1962. Apabila kita amati dengan teliti, yang menjadi dasar tafsir SM Kartosoewirjo atas kandungan Laa ilaha illallah adalah terdapat di dalam butir pertama yakni tiada maujud kecuali Allah wahdatul maujud. Butir pertama ini selanjutnya diikuti oleh butir tafsir kedua, ketiga dan keempat, seperti tersebut di atas. Ketiga butir tafsir itu butir 2,3 dan 4 merupakan konsekuensi butir pertama. Apabila pembaca amati sekali lagi mengenai penjelasan wahdatul maujud, maka kita akan mendapati bahwa pemahaman, keyakinan atau ajaran tersebut telah sejak lama ada yang dikembangkan oleh Jahm bin Shafwan [15] dan terkenal dengan nama Jabriyah Jabariyyah. [16] Inti ajaran Jabariyah adalah serba taqdir. Ajaran ini sangat bersebrangan dengan ajaran Qadariyah yang menolak takdir. Kedua ajaran ini termasuk bid’ah [17] dan hal itu tentu saja bathil. Orang-orang Jabariyyah beranggapan bahwa pengaturan terhadap seluruh perbuatan makhluk hanyalah menjadi hak Allah. Semua perbuatan makhluk merupakan perbuatan yang bersifat paksaan, seperti gerakan-gerakan getar,… Kalau perbuatan disandarkan kepada makhluk, itu hanyalah kiasan belaka. [18] Bagi Jabariyyah, manusia seorang hamba tidak mempunyai kemampuan dan tidak mempunyai pilihan apapun terhadap semua yang diperbuatnya, ia bagaikan bulu ditiup angin. Di dalam bahasa SM Kartosoewirjo, posisi manusia tidak memiliki peran sama sekali yang berpengaruh di dalam mewujudkan sesuatu, ia hanyalah saluran dan sambungan saja. Daya ikhtiyar dan akal manusia, bagaimanpun besarnya tidak akan mampu mewujudkan sesuatu, tanpa ijin dan kuasa Allah. Madzhab Salaf Ahli Sunnah wat Jama’ah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Fauzan dan Team Tauhid tentang Qadha dan Qadar sebagai berikut “Sesungguhnya Allah adalah pencipta segala sesuatu, Pengatur dan Pemiliknya. Tiada sesuatu pun yang keluar dari hal itu. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki pasti tidak terjadi. Tidak ada di alam semesta ini sesuatu yang terjadi melainkan dengan masyi’ah kehendak dan qudrat kekuasaan Nya. Tidak sesuatupun yang menghalangi Nya apabila Ia menghendaki sesuatu. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah lewat, yang akan terjadi dan yang tidak ada bagaimana seandainya ia ada. Dia telah menulis segala yang ada sebelum terciptanya; perbuatan para hamba, rezki, ajal dan bahagia atau celaka dan sebagainya. Seperti dalam firman Allah “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu.” Al-An’am17. “Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.” At-Taubah; 51. “Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan dengan Dia.” Al-Qashash 68. “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Lauh Mahfuzh sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” Al-Hadid 22 Adapun segala perbuatan, sifat dan kejadian yang berada di luar keinginan dan ikhtiar manusia, maka hal itu bukan medan taklif dari Allah dan tidak dinisbatkan kepada manusia. Tetapi ada perbuatan-perbuatan yang dapat dilakukan manusia dan berada dalam kemampuan manusia, yang kalau ia kerjakan berdasarkan kekuatan dan ikhtiar yang sudah dianugerahkan Allah kepadanya, maka tampaklah hikmah Allah dalam pembalasan. Seperti firman Allah “Supaya Dia menguji siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.” Al-Mulk2 dan Hud; 7 Setiap orang pasti merasa bahwa ia mampu melakukan perbuatan-perbuatan itu atau meninggalkannya. Jadi perbuatan-perbuatan itu benar-benar perbuatannya sendiri sesuai dengan kehendak dan keinginan bukan majazi, tapi hakiki, –Pen. Allah berfirman, “Dan katakanlah, Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zhalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” Al-Kahfi29. “Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” Ath-Thur21. “Yaitu bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” At-Takwir 28 [19] Dengan penjelasan di atas, kita mengetahui bahwa madzhab Salaf Ahli Sunnah wal Jama’ ah adalah pertengahan antara Qadariyah dan Jabariyah di dalam masalah yang kita bicarakan ini takdir. Jika Qadariyah menetapkan perbuatan manusia tergantung manusia, tanpa ada ikatan dan kaitan dengan Allah. Sedangkan Jabariyah menetapkan segalanya tergantung kepada takdir Allah, sehingga manusia sama sekali tidak dapat berbuat, dan perbuatan manusia bagaikan bulu yang ditiup angin, sebagai saluran belaka, tidak ada upaya sama sekali, tidak berbuat dengan makna hakiki. Maka, keduanya Qadariyah dan Jabariyah merupakan firqah bathil. Lebih luas lagi, tafsir SM Kartosoewirjo terhadap Kalimat tauhid Laa ilah illallah seperti disebutkan di atas 4 butir, ternyata juga bermuatan aliran tarekat sufi tertentu. Sebab hanya orang-orang sufi sajalah yang menyatakan kalimat wihdatul wujud. Aliran Wihdatul Wujud menyatakan bahwa tingkat tertinggi dari keimanan apabila seseorang telah bersatu dengan Allah dan terlepas dari kewajiban menjalankan syariat Allah [20] sehingga tidak ada yang maujud kecuali Allah. Namun demikian, SM Kartosoewirjo tidaklah sepenuhnya menelan aliran sufi yang ekstrim, sebab terbukti masih mempertahankan syariat lihat butir ke-3/Laamathluba illallah. Walau begitu, pengertian Laa mathluba illallah, bukanlah termasuk dari Laa ilaha illallah akan tetapi masuk ke dalam bagian makna rububiyyah tauhid rububiyyah. Sedangkan Laa maqshuda ilallah, bukan pula masuk ke dalam makna Laa ilah illallah akan tetapi merupakan syarat dan tujuan tauhid ibadah itu sendiri. Oleh karena itu, makna yang benar dari Laa ilaha illallah, adalah Laa ma’buda bihaqqin ilallah, artinya tidak ada ilah yang diibadahi dengan hak melainkan Allah saja. Pembahasan lebih lanjut mengenai Tauhidullah ini, akan dipaparkan saat kita meninjau sistematika tauhid antara ajaran NII dengan madzhab Salaf. Oleh karena tidak mengikuti manhaj yang hak di dalam mengaji bidang aqidah, yakni akidah itu tauqifiyyah, [21] akan tetapi mengikuti manhaj para filosof, kaum sufi dan mutakallimin/ahli kalam yang menentang Ahlus Sunnah, maka semakin kacaulah di dalam menafsirkan Laa ilaha illallah, seperti yang dimuat dalam manuskrip catatan jihad, buah pena salah seorang generasi jibal gunung yakni dalam bahasa orang NII sebagai “orang tua” atau generasi sabiqunal awwalun.lihat catatan kaki hal. 57. Tafsir yang kacau tersebut adalah sebagai berikut –Selamat pelaksanaan tugasnya terutama sekali dalam bidang 1. Memegang teguh dan menguatkan Kalimat tauhid Kalimat Thayyibah, dengan empat kerangka La; dalam makna La Mathluba illa-Ilah, dalam makna a. Tiada yang dicari dan diusahakan, kecuali Rahmat ridha Allah. b. Tiada yang dicari dan diusahakan, kecuali pemimpin pembawa amanat Allah. c. Tiada yang dicari dan diusahakan, kecuali Agama/kerajaanAllah. La maqshuda illa-llah, dalam makna a. Tiada titik tujuan, kecuali Rahmat-Ridha Allah. b. Tiada titik tujuan, kecuali idzarnya pemimpin pembawa amanat Allah. c. Tiada titik tujuan, kecuali idzarnya Agama/Kerajaan Allah. La ma’buda illllah, dalam makna a. Tiada yang disembah, kecuali Allah. b. Tiada yang ditaati dan disetiai, kecuali pemimpin dan pembawa amanat Allah. c. Tiada yang dijunjung tinggi, kecuali Agama/kerajaan Allah. La Maujuda ill-Ilah, dalam makna a. Tiada yang wujud muthlak, kecuali Allah. b. Tiada yang diakui wujud/ada, kecuali pemimpin pembawa amanat Allah. c. Tiada yang diakui wujud/ada, kecuali Agama/Kerajaan Allah. [22] Sekali lagi, bagaimana pemahaman yang benar atas La ilaha illallah yang dipahami oleh Salafus Shalih Ahli Sunnah wal Jama’ah, berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dapat dilihat di dalam pembahasan sistematika penggolongan tauhidullah. Semoga waspadalah orang-orang yang mau waspada, dan akan tergelincirlah orang-orang yang lalai. dan semoga kita termasuk orang-orang yang meniti jalan Salafus Shalih. Yakni jalannya para Nabi dan sahabatnya. Mereka para shahabat adalah orang-orang terbaik yang diberi predikat oleh Allah Ridwanullah Alaihim Ajma’in atas keimanan dan ketakwaan mereka. Merekalah yang mencukupkan diri dengan apa yang difirmankan Allah Azza wa Jalla dan yang disabdakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, di dalam ber-dien ini beraqidah, beribadah; berakhlak, bersyari’ah dan bermu’amalah. Merekalah orang-orang yang mengingkari filsafat dan hukum mutakallimin yang menggunakan standar akalnya untuk menimbang firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Apabila akalnya membenarkan dua wahyu Allah, maka mereka menetapkannya sebagai keyakinan. Sebaliknya, apabila akal mereka tidak memberikan rekomendasi terhadap dua wahyu Allah, maka mereka menolaknya dengan congkak dan sombong. Menarik apa yang dikatakan Ibnu Khaldun tentang bagaimana menempatkan akal di dalam dien kita ini, “Akal adalah mizan yang benar, maka keputusannya benar tak mengandung kedustaan. Tapi Janganlah kau gunakan ia untuk menimbang masalah tauhid, masalah akhirat, hakikat nubuwah, hakikat sifat-sifat Ilahiyah dan apa yang ada di balik itu, karena hal itu mustahil. Orang yang menggunakan akalnya untuk perkaraperkara seperti ini adalah seperti orang yang melihat timbangan untuk menimbang emas, lalu dengan penuh ketamakan ia menggunakannya untuk menimbang gunung. Ini tidak menunjukkan bahwa timbangannya tidak betul, tetapi akal yang tidak mampu. Dia tidak dapat menjangkau Allah dan sifat-sifat-Nya karena ia akal, Pen sebuah dzarrah atom dari atom-atom alam ciptaan Allah.” [23] ~ Disalin dari buku ” NII Dalam Timbangan Aqidah “. Penulis Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam. Penerbit Pustaka Al-Kautsar Cet. Pertama Juli 2000 ~ Sumber Artikel Footnote [12] A. Firdaus, Op Cit. hlm. 29-31. [13] Majalah ini merupakan karya Usroh Jakarta sebagai bagian dari NII. Periksalah majalah tersebut pada edisi 17/Thn II-1994, hlm. 37-39. [14] Catatan jihad manuskrip, Penulisnya, menurut berita yang beredar adalah Abu Suja’ yang kemudian dieksekusi Adah Jaelani Tirtapraja atas fatwa Ajengan Masduki. Ia dibunuh karena tulisannya berbeda dengan yang ditafsirkan oleh penguasa yang sedang eksis Adah Jaelani sebagai Imam. [15] Abdurrahman bin shalih Al-Mahmudi. Al-Qadla wa Qadar fi Dhui Al-Kitab wa AsSunnah, Riyadh, Dar An-Nasyr Ad-Dauli 1414. hlm. 142. [16] Jabariyyah adalah suatu ajaran atau keyakinan bahwa Allahlah yang menentukan perbuatan manusia baik buruknya, manusia tidak punya upaya apa-apa. Ajaran ini diyakini oleh firqah Jahmiyah yakni para pengikut Jahm bin Shafyan Abi Mahras As-Samarkandi At-Turmudzi yang dihukum bunuh pada tahun 128 H. Jahm bin Shafwan belajar kepada Ja’d bin Dirham. Ja’d belajar kepada Thalut. Thalut belajar kepada Labib bin Al- Asham, seorangYahudi, maka jadilah mereka semua murid-murid Yahudi. Karena itu, perhatikanlah dari siapa seseorang itu mengambil ilmu? Sedangkan Qadariyah adalah firqah yang berpandangan sebaliknya yang muncul pada akhir masa shahabat. Mereka berkeyakinan bahwa manusia itu sendirilah yang menciptakan perbuatannya, sedangkan Allah tidak menetapkan qadar apa-apa. Orang pertama yang membawa paham ini ialah Ma’had Al-Juhani. disebut pula Ghayalan Ad-Dimasyq. Dan ada pula yang mengatakan bahwa pembangun firqah ini adalah Susan An-Nasrani. [17] Ibnul Qayyim, Syifa Al-’Alil, Dar el Fikr. 1409, Bab 13, [18] Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki dan Syu’aib Al-Arnauth, Syarah Aqidah AtThahawiyyah, hlm. 639. [19] Tim Tauhid At-Tauhid Lish-Shaffits Al-’Ali,. terjemahan Agus Hasan Bashari. Jakarta, Darul Haq, 1419, hlm. 169-171. [20] Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki. Op Cit, Butir Pembagian Tauhid. [21] Tauqifiyyah maknanya hanya ditetapkan berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah, lihat Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki Dasar-dasar aqidah Imam Salaf; Shalih bin Fauzan At-Tauhid I; Abdullah Azzam Aqidah landasan Pokok Membina Umat dan seluruh kitab-kitab tauhdid buah pena para ulama pewaris Nabi Ulama ahlus sunnah wal Jama’ah lainnya. [22] Catatan Jihad, Op Cit. hlm. 4-5. [23] Abdullah bin Abdul Muhsin At-Turki. Op Cit. Bagian Kaidah Pengajian Masalah Aqidah, butir Membatasi Akal Memikirkan Perkara yang Bukan Bidangnya… ___________ Cool La Maujuda Illallah Artinya References. Mengutip dari buku tidak semua syahadat diterima allah oleh badiatul muchlisin asti, dijelaskan bahwa bacaan syahadat lailahaillallah muhammadarrasulullah' memiliki arti. Alhajj muhammad owais raza qadri song ilaha illallah wahdahu la sharika lahu Lahulmulku wa lahul hamd from aku seadanya dengan adanya. Alhajj muhammad owais raza qadri song 2014. Kemudian lâ maujûda bihaqqin illallâh maksudnya tiada yang maujud—bermakna wujud—dengan hak kecuali Dari Buku Tidak Semua Syahadat Diterima Allah Oleh Badiatul Muchlisin Asti, Dijelaskan Bahwa Bacaan Syahadat Lailahaillallah Muhammadarrasulullah' Memiliki aku seadanya dengan adanya. لَا إِلهَ إِلَّا اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ artinya ; Listen to la maujuda illallah on Wujud Yang Terlihat makna lâ ilâha illallâh adalah lâ mabûda illallâh, tiada tuhan yang disembah selain allah, niscaya kenyataannya berbohong. Lâ maujûda bihaqqin illallâh selain dua makna di atas, kalimat tauhid yang sedang kita bahas juga dapat dimaknai lâ maujûda bihaqqin illallâh, yaitu tiada yang disaksikan. فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا Laa Ilaaha Illallah [ لآإِلَهَ إِلاَّ الله ] Yang Benar Adalah [ لآ معبود حق إِلاَّ اللهُ ] Laa Ma’buuda Bi Haqqin Illallah , Artinya Tidak Ada Sesembahan Yang Benar Dan Berhak maujuda illallah tono de llamada la maujuda illallah. “maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah yang haq melainkan allah. Alhajj muhammad owais raza qadri song La Maujuda Illallah Song And Listen La Maujuda Illallah Mp3 Song tiada lain selain wujud allah ini mesti dibawah ke kajian. Kalimat laa maujuda illallah dapat dipahami dalam dua pengertian Kemudian lâ maujûda bihaqqin illallâh maksudnya tiada yang maujud—bermakna wujud—dengan hak kecuali allah.“Barangsiapa Yang Mati Dalam Keadaan Ia Mengetahui Kandungan Makna Laa Ilaha Illallah’ Bahwa Tiada makna kalimat la ilaha illallah yang tepat adalah sebagaimana yang telah kita jelaskan diawal, yaitu “tidak ada tuhan/sesembahan/rabb yang berhak disembah/diibadahi. من مات وهو يعلم أنه لا إله إلا الله دخل الجنة. Play la maujuda illallah song by owais raza qadri from the urdu album one and only muhammad. Terbaru La Maujuda Illallah Artinya Sedang Viral Reviewed by Resep Resep Masakan on May 07, 2023 Rating 5 Uploaded byBambang Sabirin 0% found this document useful 0 votes8 views4 pagesDescriptiontauhidCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 0 votes8 views4 pagesLa Maujuda IllallahUploaded byBambang Sabirin DescriptiontauhidFull descriptionJump to Page You are on page 1of 4Search inside document You're Reading a Free Preview Page 3 is not shown in this preview. Buy the Full Version Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. Para ulama tauhid sepakat bahwa makna Lâ ilâha illallâh adalah Lâ mabûda bihaqqin illallâh tiada tuhan yang disembah dengan hak kecuali Allah, bukan Lâ mabûda illallâh, tiada tuhan yang disembah selain Allah. Andai makna Lâ ilâha illallâh adalah Lâ mabûda illallâh, tiada tuhan yang disembah selain Allah, niscaya kenyataannya berbohong. Sebab, masih mengasumsikan ada tuhan-tuhan selain Allah di luaran sana yang disembah. Padahal, tuhan-tuhan itu semuanya batil kecuali Allah. Karena itu, perlu dipastikan bahwa makna Lâ ilâha illallâh adalah tiada tuhan yang hak kecuali Allah. Tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya kecuali Dia Syekh Muhammad Abdul Qadir Khalil, Aqidah al-Tauhid fi Al-Qur’an al-Karim, Terbitan Maktabah Daruz Zaman, Cet. Pertama, 1985, hal. 40. Secara retorika, kalimat Lâ ilâha illallâh disajikan dalam gaya bahasa qashr nafyi dan itsbat. Artinya, gaya bahasa yang membatasi makna dengan cara menegasikan yang lain dan menetapkan salah satunya. Dinegasikan dengan kalimat Lâ ilâha dan ditetapkan oleh kalimat illallâh. Itulah kalimat tauhid untuk mengesakan Allah. Jika yang dipakai hanya itsbat penetapan maka maknanya tidak mencegah keterlibatan tuhan lain. Begitu pula jika yang dipakai adalah nafyi saja, maka yang terjadi ternafikan seluruhnya. Sehingga jika kita mengucapkan Lâ ilâha tiada tuhan, maka ternafikanlah seluruh tuhan termasuk Allah. Demikian pula jika kita mengucapkan allâhu ilâhun Allah itu tuhan, maka kita belum bertauhid. Karena kalimat ini lemah dan tidak menegasikan keikutsertaan tuhan-tuhan yang lain Syekh Muhammad Abdul Qadir Khalil, Aqidah al-Tauhid fi Al-Qur’an al-Karim, Terbitan Maktabah Daruz Zaman, Cet. Pertama, 1985, hal. 40. Oleh sebab itu, ketika kalimat penetapan ini dipakai, Al-Qur’an sendiri menguatkannya dengan sifat. Contohnya kalimat, “Wa ilâhukum ilâhun wâhid” Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, QS al-Baqarah [2] 163. Sifatnya adalah “yang maha esa”. Bahkan, kalimat itsbat itu tak dibiarkan Al-Qur’an begitu saja. Lanjutan ayat tersebut ialah kalimat tauhid, “Lâ ilâha illâ huwar rahmânurrahîm Tiada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, QS al-Baqarah [2] 163. Selain bermakna Lâ mabûda bihaqqin illallâh Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Lâ ilâha illallâh juga bermakna Lâ maujûda bihaqqin illallâh Tiada maujud yang hak selain Allah dan Lâ masyhûda bihaqqin illallâh Tiada yang disaksikan dengan hak selain Allah. Makna Lâ mabûda bihaqqin illallâh ini juga ditegaskan Allah dalam surah al-Fatihah. Iyyaka nabudu Hanya kepada Engkau kami menyembah. Lagi-lagi gaya bahasa yang dipergunakan adalah gaya bahasa qashr . Bedanyanya, jika Lâ ilâha illallâh dengan qashr nafyi dan itsbat, sedangkan iyyaka nabudu dengan qashr taqdim ma haqquhu al-ta’khir mendahulukan bagian kalimat yang biasa diakhirkan. Tanpa qashr, kalimat itu berbunyi, Nabuduka Kami menyembah Engkau. Namun, dalam gaya bahasa qashr, kalimat itu menjadi Iyyaka nabudu Hanya kepada Engkau kami menyembah.” Karena itu, siapa pun yang telah menyelami makna ini, tidak akan ada yang bisa menghalangi dirinya beribadah, tidak ada yang terpikir saat dirinya beribadah kecuali Allah. Kemudian Lâ maujûda bihaqqin illallâh maksudnya tiada yang maujud—bermakna wujud—dengan hak kecuali Allah. Segala wujud yang terlihat bukan wujud yang hakiki. Wujudnya bumi misalnya. Ia diwujudkan oleh Allah. Selain itu, wujud bumi juga terbatas dan fana. Begitu pula wujud-wujud yang lain. Semuanya wujud karena ada yang mewujudkan. Tetaplah wujud yang hakiki dimiliki oleh Allah, Dzat yang maha wujud, azali, qadim, dan kekal. Kemudian Lâ masyhûda bihaqqin maksudnya tidak ada yang disaksikan dengan hak kecuali Allah. Apa pun yang dilihat dan disaksikannya semata karena wujud dan kebesaran-Nya. Tidak ada yang disaksikan semata rencana, kehendak, kekuasaan, dan hikmah-Nya. Tidak ada yang buruk di sisi-Nya. Sehingga manakala ada seseorang yang melihat perkara buruk oleh mata kepalanya, maka dengan pandangan mata hatinya bashirah terlihat baik dan sejalan dengan hikmah yang hendak diberikan-Nya. Bahkan, seorang yang telah menyelami makna ini, tidak bisa melihat sesuatu di depannya kecuali Allah. Itu pula yang terjadi pada al-Hallaj yang pernah mengatakan, “Ana al-haqq.” Para ulama tasawuf menyebut makna Lâ ma’bûda ini sebagai makna syariat, makna Lâ maujûda sebagai makna tarekat, dan Lâ masyhûda sebagai makna hakikat lihat Syekh Abu al-Hasan Nuruddin, al-Radd ala al-Qa’ilin bi Wahdatil Wujud, [Damaskus Darul Ma’mun], 1995, Cet. Pertama, hal. 20. Turunan dari tiga makna di atas adalah Lâ maqshûda bihaqqin illallâh tiada yang dituju dengan hak selain Allah, Lâ maqdûra bihaqqin illallâh tiada yang dikuasakan dengan hak selain Allah, Lâ mas’ûla bihaqqin illallâh tiada yang diminta dengan hak selain Allah, La mahbûba bihaqqin illallâh tiada yang dicintai dengan hak selain Allah, dan seterusnya. Untuk mendukung makna-makna di atas, para ulama sekurang-kurangnya mempersyaratkan delapan hal, yaitu 1 memiliki pengetahuan untuk menafikan kebodohan, 2 memiliki keyakinan untuk menafikan keraguan, 3 memiliki penerimaan untuk menafikan penolakan, 4 memiliki kepatuhan untuk menafikan ketidaktaatan, 5 memiliki keikhlasan untuk menafikan kesyirikan, 6 memiliki kejujuran untuk menafikan kemunafikan, 7 memiliki kecintaan untuk menafikan kebencian, 8 memiliki kekufuran terhadap segala sesuatu selain Allah lihat Syekh Abdurrahman ibn Muhammad, Hasyiyah Tsalatah al-Ushul, Terbitan Daruz Zahim, Cet. Kedua, 2002, hal. 84. Demikian kekuatan makna Lâ ilâha illallâh dalam retorika qashr. Semoga uraian singkat ini kian menambah keyakinan dan ketauhidan kita. Wallahu a’lam. ​​​​​​​M. Tatam Wijaya POKOK TAUHID Artinya Tidak ada yang maujud kecuali atas ijin dan takdir Allah. Pengertian singkatnya adalah bahwa setiap kejadian, baik yang disengaja oleh manusia ataupun tidak, baik yang sesuai dengan keinginan manusia ataupun tidak, yang bersifat biasa ataupun luar biasa, yang manis dan yang pahit, yang baik maupun yang buruk, itu semua adalah atas kudrat dan iradat Allah, atas kuasa dan kehendak Allah. Posisi makhluk termasuk manusia, tidak ada peran sama sekali yang berpengaruh di dalan mewujudkan sesuatu, ia hanyalah saluran dan sambungan saja. Daya ikhtiar dan akal manusia, bagaimanapun besarnya tidak akan mampu mewujudkan sesuatu, tanpa izin dan kuasa Allah. Ikhtiar dan akal manusia hanya berfungsi sebagai sarana dan penyambung dari kuasa dan kehendak Allah yang Maha Mutlak. Karena itu, manusia harus menyadari akan kelemahan dan kekerdilannya di hadapan Allah Rabbul Izzati. Segala hidup dan kehidupan, bergantung mutlak kepada kuasa dan kehendak Allah, manusia tidak memiliki daya dan kuasa sedikit pun, kecuali atas kehendak dan kuasa Allah. Inilah yang dikatakan wahdatul maujud.

la maujuda illallah artinya